Buat yang belum pernah pergi ke Dieng, dijamin tidak akan pernah menyesal untuk pergi kesana. Apa yang anda lihat dan anda bayangkan memang benar - benar indah (like this!). Saya sendiri ingin mengulanginya lagi. Dieng ini memang tidak seterkenal Bali, tapi memang betul - betul menyenangkan untuk orang - orang yang suka travel alam (like this!), menyatu dengan para penduduknya (also like this! :)), dengan sensasi yang berbeda dan dijamin murah (The most I like, hhaa!!!).
Nah, saya berlibur ke Dieng kira - kira sekitar bulan Juli 2010 (masih baru). Waktu itu karena ada liburan panjang akhir tahun pembelajaran 2009/2010. Dengan keluarga (papa, mama, adik), saya pun pergi kesana.
Kesan awal sebelum sampai di Dieng memang tidak menyenangkan, diawali mulai tol Cikampek macet parah karena ada perbaikan jalan tol beberapa kilometer. Huh, keluar Cikampek sedikit lega karena memang ramai namun lancar. Sampai di sekitar Indramayu, perbaikan jalan kembali terjadi hingga kami pun, sekali lagi, harus mengantri bergilir jalan yang hanya 1 ruas saja.
| Istirahat di Mesjid mencari nafas setelah bermacet - macetan Me and My Sister |
Mobil didepan mobil saya, yang saya ingat waktu itu warna merah, juga ngebut didepan mobil saya. Selang beberapa detik saya lihat mobil itu seperti terbang (hhaa), saya sudah berteriak pada Papa saya agar mengerem, namun terlambat. Akibatnya, mobil saya juga ikut terbang karena ada gelombang di jalan tol itu!. Peristiwa itu sontak membangunkan Mama saya yang tidur di jok tengah, dengan adik saya yang tidur di pangkuan Mama saya. Yang lebih hebat lagi, adik saya terpental jatuh ke feet space dengan wajah yang menyentuh karpet mobil (such a nightmare!). Hiasan bungan matahari yang bisa goyang - goyang (karena meyerap sinar matahari, sering ada yang jual di lampu merah) jatuh dengan posisi jungkir balik plus bunganya copot hingga bergoyang tanpa kepala (konyol!).
Langsung saja ya, saat saya sampai ke Pekalongan, jujur saya sudah lelah, sebagai co pilot, capek sangat!. Papa, sang pilot, juga tanpak asik dengan mata melotot akibat takut ada gajlukan (apaan tuh??) yang bisa bikin kami semua spot jantung lagi. Mama, sang administrator, langsung check in hotel, karena ngatuk plus lapar. Hotel Indonesia, saya sangat ingat pernah menginap disana 2 kali. Selesai menurunkan barang - barang, kami pergi mencari makan karena perut sudah meraung - raung minta diisi. Hotel ini sangat dekat dengan stasiun kereta Pekalongan, bahkan hanya tinggal menyebrang jalan, kita sudah sampai di Depo Stasiun Pekalongan!. Wah, senangnya... (I'm a train lover, u know!)
| Hotel Indonesia - Pekalongan |
Tapi, kami masih harus menunggu Papa saya yang dari tadi saya lihat bolak - balik lihat mobil. Tak disangka, setelah cek di bengkel depan hotel, saluran freon mobil pecah dan menyebabkan ac mobil kami out of function (maaf, saya suka sok bule!). 1 jam kami menunda travel ke Dieng, karena bisa masuk jurang kalau ke Dieng tidak ada ac (kaca menjadi berkabut sehingga tidak bisa melihat, sedangkan jalanan Dieng sungguh benar - benar hanya jurang dengan do'a).
Tidak tahu kenapa, Papa saya, menjadi seorang Dieng lover sejak menonton siaran FTV malam yang ada di salah satu channel televisi, SCTV. Filmnya itu tentang cinta (wew!) yang lokasinya di Dieng, dan cerita lainnya (maaf gak tahu semua, Papa saya yang nonton.). Papa saya bilang, Dieng itu cakep banget (terbukti!), indah, hijaaaauuu sekalee. Pokoknya, bagus banget!. Penasaran gara - gara itu, waktu jadwal Papa saya nonton film itu, saya ikutin dan memang (walau hanya dari layar kaca T-T) seluruh pernyataan Papa saya secara sah FAKTA!. Liburan yang kami rencanakan akan pergi ke Ciamis (Green Canyon) batal, karena ada gempa di Pangandaran (otomatis dekat dengan Ciamis). Papa saya pun segera membicarakan proker Dieng, dan langsung kami on the way to dieng (sok bule lagi).
Kembali ke perjalanan saya, kami kembali menemukan titik kemacetan yang lumayan membuat wajah saya merah padam karena leletnya kendaraan berjalan. Lagu 'Gee' oleh Girls Generation girl band dari Korsel, yang sedari tadi saya dan adik saya jadikan tempat semi karaoke, berganti menjadi 'Tell Me Your Wish' sedikit menghibur saya. Sampailah kami dengan latar jalan pepohonan jati di Kab. Batur, tepatnya di Tulis. Saya sebagai co pilot, memberitahukan Papa saya kalau sebenarnya ada sebuah jalan alternatif dengan rute yang cepat ke Dieng di Tulis. Sang pilot a.k.a Papa saya mengamati koordinat peta (he? sok pilot) dan akhirnya tanpa banyak cengcong kami berbelok ke jalanan yang memang tidak semulus jalanan utama alias jalanan kampung.
| Ini masih pas awal loh.. ~~~ |
Yang namanya jalan alternatif, ya jelas, kalau tidak semulus jalan Pantura. Walaupun gitu juga, karena sering menemukan jalanan yang sama pada jalur mudik Sumatra, lewat jalur 'nyeleneh' ini memang awalnya tidak bikin kami ber-4 pusing. Ada beberapa kampung, lalu pepohonan yang didominasi oleh jati. Ada pula warga yang menanam cengkeh. Ada beberapa pertigaan ataupun perempatan dengan jalan berkerikil, yang tidak tertera di peta kami. Tanya sana tanya sini, kami akhirnya melewati Bandar juga melewati Batur.
Sekitar 2 jam kami tiba di kampung yang asri, kelihatannya 'damai', tentram (hmm...), dengan jalanan super mulus!. Kami pikir inilah jalanan yang 'sesungguhnya'. Tanpa basa - basi, kami langsung jalan. Namun kami lihat tiba - tiba sebuah hutan menganga tanpa ampun membabat jalanan yang lebih parah, lebih hancur, lebih terjal, tanpa kendaraan. Bisa dibayangkan bagaimana wajah kami yang tadinya imut (Huekks!) berubah kecut...?
Hanya ada seorang laki - laki dimobil kami. Selebihnya perempuan. Itulah yang membuat kami cemas sekali. Kami melewati jalanan tanpa aspal tapi berhiaskan batu sebesar komputer tabung, atau CPU-nya lah, yang tajam - tajam. Yah, berbekal ketakutan yang mantap, juga bertahan pada hipotesis 'semangat' dan 'kami bisa', membuat kami meneruskan perjalanan, yang tanpa kami ketahui, kami harus memasuki hutan lindung, yang memaksa kami berderai do'a (sok pujangga).
Saya yang memang suka pamer muka, jepret sana - jepret sini (gak tau tempat dan aturan), jadi diam saja karena pikiran saya, jikalau ada 'orang jahat', habislah kami jadi tarzan di tengah hutan lindung bersama nyet - nyet, kijang, ular, huaaa... T-T.
Nah, muncullah di pikiran saya, untuk membuat keluarga tenang. Tenang atas ancaman 'orang jahat', cemas terhadap mobil kami, terutama BAN-nya. Bagaimana kalau bannya pecah? bagaimana kalau laher mobil kami patah? bagaimana kalau, sekali lagi, kami harus jadi tarzan penunggu hutan lindung!!!.
Setelah sekitar 1 jam kami berkutat dengan aura negatif (sok paranormal atau emang gak normal?), akhirnya, mata saya berpendar - pendar melihat satu mobil berjalan dari arah berlawanan. Artinya, jalanan berikutnya dapat dilewati! Horee... :D
Bau kopling yang betul - betul memuakkan, hilang dari radar penciuman ekstra jitu saya, tertutup oleh indahnya perkebunan sayur yang betul - betul bagus!. Jalanan yang kira - kira hanya 2,5 meter-an itu menjadi sangat unyuu dengan bukit yang samar tersabut kabut hijau kebiru-biruan. Saya sudah girang karena saya kira kami sudah menemukan yang namanya itu 'Dieng', tapi, itu baru setengahnya (apaaa???).
Belok kanan, belok kiri, akhirnya saya sekarang sudah dapat kembali turn the MP3 player on (maaf, numpang berlagak bule). Lupa saya waktu itu lagu yang lagi on apa, yang pasti yang saya benar - benar ingat bahwa saya sempat jeprat - jepret lagi ala amatiran sok profesional. Sampai juga saat kami harus melewati tebing - tebing yang tak terlihat dasarnya karena tertutup kabut tebal. Jalanannya berkelok - kelok, tapi cukup menegangkan walaupun sungguh indah.
| Dilihat dari atas jalanan berliku |
| Akhirnya saya bisa foto-foto lagi.. %^%#@87 |
Empat lewat tiga puluh menit. Karena kejar - kejaran sama waktu, sampai di Dieng langsung lah kami babat habis kompleks candi - candi yang persis berada di tengah - tengah Dieng. Pertama keluar mobil, saya yang memakai kaus lengan pendek plus bolero, tidak merasakan dingin, biasa saja.
Pelataran kawasan ini diisi oleh para penjual, dan area parkir yang tidak terlalu besar. Bersih, indah, asri. Awal kompleks ini berisi reruntuhan - reruntuhan candi yang sudah termakan usia. Hanya terlihat berpetak - petak karena memang hanya podasinya saja yang masih utuh bujur sangkar, entah yang lainnya bentuknya saya tak tahu. Sedikit berlumut, karena saya lihat ada bercak hijau - hijau, dan adik saya yang berebutan kacang rebus dengan papa saya (ngak banget!) mengacaukan photo session saya yang saya kira akan sangat eksotik.
| Carica, Buah yang hanya hidup di Dieng dan Brazil, tapi kalo yang di Brazil lupa nama dataran tingginya apa. |
Bau kemenyan dan bunga-bungaan memang sangat terasa, dan didalam tiap candi saya lihat ada sesajen. Lalu, saya lihat ada seperti, entah meja atau tempat penampung air, dengan bentuk dasar bujur sangkar dan cekung yang lumayan dalam. Mama saya menyuruh saya keluar, karena takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada saya. Akhirnya saya keluar, of course, dengan selamat booo...!!!.
| Reruntuhan yang tinggal pondasinya aja |
| In The Center of The Ring |
| And My Family |
Setelah acar foto sendiri,hingga acara foto keluarga selesai, kami berjalan menyusuri jalan kecil namun sangat asri. Entah kemana kami tak tahu. Secara ajaib, kami tiba di depan jeng, jeng.... MUSEUM! Maaf sebelumnya, karena saya lupa apa nama museumnya, tapi yang pasti, itu mesuem ada dijalan menuju candi Bima. Namun sayangnya, mesuem itu sudah closed pada jam sore, sesore saya sampai. Sementara papa saya numpang toilet itu museum, saya and mommy and sista (agaiinnn...), beli bakso diseberang jalan dan semangkuk wedang ronde (Mau???).
| Museum |
Awal yang menyenang disore itu, karena pada saat yang sama, menikmati bekunya dingin, kami dapat bercengkrama dengan penduduk lokal, yang rata-rata saya lihat adalah petani kentang dengan kulit semerah bata. Tanpa saya tanya, mereka langsung bercerita tentang daerah Dieng ini, plus mengapa kulit mereka jadi merah begitu. Saya sedikit menggigil, karena hari sudah hampir menginjaki terangnya bulan, sedangkan saya hanya berbalut tipisnya bolero saya. Ibu bapak penduduk ini, menawarkan saya untuk menhangatkan diri di sebuah tungku api dengan bara dalam tiap arangnya. Waah, mana pernah saya seperti ini. Memakai jaket dirumahpun, saya tak pernah!.
Bakso yang saya santap tadi, sudah habis bersih masuk kedalam karung diperut saya. Setelah pamit, of course bayar lah!, kami sekeluarga kembali ke mobil untuk mencari penginapan. Hari menunjukkan pukul 06:05 saat saya mengubek-ngubek tas mencari jaket dijok belakang. Saya pakai 2 jaket sekaligus, sarung tangan, dan kupluk abu-abu bertuliskan: Dieng.
Putar - Putar Desa Dieng yang cuma seuprit gini, cuma ada 1 hotel, dengan banyak homestay. Pertama kami pijak ya hotel duluan. Hotelnya saya lupa nih namanya, pas check, air panasnya udah abis semua. Pertanyaannya, kalo kayak gitu, dengan dingin 10 celcius, mau mandi gimana? gak mandi aja udah beku, gimana kalo mandi? huaaa T-T. Akhirnya, kami bolak - balik cari homestay yang bagus, bersih, bla bla bla. Kami bertiga sih oke - oke saja, namun mama saya hanya setuju dengan homestay yang masuk pada nominasi 7K mama saya.
*Homestay: versi om Google = Rumah tinggal
versi saya = nginep dirumah penduduk setempat, tapi tetep aja BAYAR!
Akhirnya, kembali ke hotel yang air panasnya sengkle' itu, kami didatangi oleh seseorang dengan jaket dan kupluk mendatangi papa saya. Ternyata, Bapak itu, menawarkan sebuah homestay yang masih kosong, berada tak jauh dari hotel itu. Kami coba lihat, mengikuti bapak tadi dari belakang, dan sampailah kami. Ternyata bagus juga.
Berada tidak pas di pinggir jalan raya sih sebenernya, paling sekitar 6 meter dari pinggir jalan (sama aja!). Malam itu kami berkemas, dan disana benar-benar dingin sekali! Brr... Dingin, campur lapar, akhirnya kami cari makan. Alih - alih biar gak nyasar, kami tanyalah ke si Ibu homestay a.k.a Bu Nur. Katanya sih, ada satu rumah makan di seberang jalan dekat bank. ha? satu? satu? yang benar aja di tempat wisata yang bagusnya kayak gini kok rumah makan cuma ada 1???. Waktu itu jam 9 malam. Kami sih asik aja jalan-jalan keluar. Diluar betul - betul kosong gak ada orang. Cari rumah makannya gak ketemu - ketemu.
Handphone saya, sinyal kosong melompong! aduuh, payah abis emang nih kartu SIM saya kalo udah ditempat - tempat yang kayak gini. hhh~~~. Karena mepet memang harus beli kartu, kami pergi ke toko yang jual kartu SIM. kembali, kami tanya apakah ada rumah makan, atau seenggaknya warteglah buat ngisi perut saya ini. Dia, sekali lagi, bilang ada satu tapi di sebrang yang tadi telah kami lewati. Akhirnya kami kembali lagi menyusuri jalan yang telah kami lalui sebelumnya, dengan pemandangan hitam berhiaskan petugas ronda malam yang membawa senter, pentungan, sarung, dan secangkir kopi.
Kami kembali ke homestay, dengan perut yang masih kelaparan. Saya ingat, di mobil ada satu bungkusan besar Pop Mie (maaf, ada labelnya). Karena tak tahu harus bagaimana lagi, kami pun memasaknya dengan meminta air kepada Bu Nur. Waaah, ini bagian yang sangat saya sukai. Ketika kami dipersilahkan untuk menikmati Pop Mie itu, ditemani dengan pemilik homestay, didepan tungku api yang bernama anglo.
Kebetulan, homestay ini adalah basis dari komunitas pecinta Dieng, ya, begitulah, saya juga lupa namanya apa. Nah, disini para anak muda yang peduli lingkungan, menekan akan menjamurnya hotel - hotel yang dapat menjatuhkan pendapatan para penduduk asli yang mata pencaharian sampingannya sebagai penyewaan homestay ini. Maka dari itu, dalam forum dadakan singkat, tapi kalo menurut saya lebih seperti seminar, saya di ceritain panjang lebar tentang bagusnya perkumpulan itu dan juga andil yang telah tercipta.. (Woow!).
Saya akhirnya tau, kenapa di Dieng hanya ada 1 hotel. Tapi yang lebih gak masuk akal kenapa rumah makan cuma satu?. Hehehehe...
Tiba - tiba bapak tadi datang. Ternyata Bapak tadi itu saudara dari Bu Nur, dan si Mas (yang nyeritain saya tadi). Dia, a.k.a Pak Roso, seorang pemandu wisata handal di Dieng. Dia menawarkan beberapa pilihan wisata besok. Wah, kebetulan! Kami yang buta wilayah saat itu, mengangguk untuk mendaki esok pagi buta untuk menikmati sunrise yang luar biasa. Saya lihat wajah mama saya yang langsung mengkerut namun saya tahu dia sangat ingin ikut.
Setelah tanya sana - sini, mama saya berani juga pagi buta ikut mendaki gunung. Dimulai pagi buta, dipandu Pak Roso, kami mendaki gunung. Saya tak dapat melihat pemandangan apapun, karena hari masih gelap. Tak ada ketakutan dalam diri kami semua. Saya menengok ke handphone saya yang tadinya tanpa sinyal, berubah mendapat 3 sinyal. Berarti, kami sudah cukup sangat tinggi.
Udara kala itu, memang sangat dingin. Ditambah, oksigen semakin menipis dan sedikit membuat saya sesak. Namun apa yang akan saya lihat nanti lebih dari cukup untuk mengganti sesak saya. Kami bersama satu keluarga yang mengekor dibelakang kami, terus mendaki sekitar setengah jam. Jalanannya cukup terjal, walaupun hanya beberapa. Suasana sangat tenang, namun beberapa kali saya mendengar suara mama saya yang tidak dapat menaiki beberapa batu yang tingginya sekitar setengah meter. Dan, itu artinya saya harus 'mengkatrol'nya untuk naik.
Hari sangat berkabut ketika kami sampai di base tempat sunrise terbaik. Matahari belum muncul. kami menunggu sekitar setengah jam. Dan akhirnya muncullah dia, mentari dengan silver rise nya.. waaw... saya rasa, inilah pemandangan terindah saya.
Ketika matahari sudah naik, kabut - kabut serasa terkuak naik. Lebih jelas pemandangan yang saya dapatkan. Banyak terdapat gunung - gunung tepat didepan mata. Saya lupa apa nama gunung yang kami daki, namun yang saya ingat, ada gunung Sindoro dan Merapi yang kami lihat. Kembali kami berfoto, dan melihat banyak wisatawan yang tak juga melupakan momen ini untuk menshoot pemandangan.
View yang akan anda dapatkan pasti akan sangat menarik jika anda memulainya dari awal. Yang saya sangat perhatikan adalah keberanian!. Jangan takut untuk mencoba. Apapun itu, mendaki gunung sekalipun, takkan ada hasilnya jika anda takut!. Ahahaha...
Well, Turun gunung, dan tiba di sebuah danau dengan banyak tanaman cabai. Cabai setan katanya. Bentuknya besar, bahkan saya bilang ini sangat besar. Berwarna hijau, dan tak biasa. Waw, apalah, saya pun ciut jika harus memakan cabai itu.
Lanjut kemudian, Pak Roso mengajak kami untuk ke tempat tambang gas alam. Diperjalanan, terlihat gorong-gorong besar (pipa besar) yang terus menyusuri jalan. Sampai ditempat, saya ngeri jika tempat ini meledak, dan... saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Tempatnya besar, sunyi, namun bersih. Saya dan adik sempat berlari - lari karena tempatnya lumayan luas. Seorang penjaga menghampiri kami menanyakan tujuan kami kesini. Pak Rosopun ambil bagian, dan menjelaskan bahwa kami hanya melihat - melihat.
| Tambang Gas Alam |
Menurut petuah (heuu.. *_*") Pak Roso, tanah yang akan dipijak harus diperhatikan!
*Warning! Karena tanah disana sewaktu - waktu dapat berubah menjadi kawah baru. Jadi dapat jeblos. Kawah di Sikidang tidak diam disatu lokasi, namun dapat berpindah - pindah. Jadi harus sangat berhati - hati.
Walaupun begitu, itu tidak mengurasi rasa kagum saya. Disana ada sebuah kawah yang lumayan panas dan lumayan besar, dan cukup mengerikan. Saya lupa berapa suhunya, namun cukup lah merebus telur hanya dalam beberapa detik. Asap hasil panas itu, sangat mengganggu untuk saya menilik kedalam golakan lumpur panas. Coklat kehitam-hitaman, dan sedikit berbau, entah apa.
Jam sudah sekitar jam 8, ketika kami mencoba kentang goreng yang banyak dijual (karena Dieng banyak terdapat perkebunan kentang). Kentangnya sumpah besar - besar, cukup mengganjal perut yang lapar. Udara dingin, begitu klop dengan panasnya kentang goreng plus semangkuk ronde. Mama saya, sembari menunngu yang lain selesai makan, membeli buah tangan alias oleh - oleh untuk yang dirumah.
Hey hey, tak terlewatkan juga, ada anak gimbal disana. Well, anak gimbal itu anak yang sejak lahir rambutnya gimbal. Konon menurut cerita warga, dulu Dieng adalah suatu tempat yang dikutuk. Kutukannya itu, adalah bahwa keturunan selanjutnya akan berambut gimbal yang dipercayai membawa sial atau apalah itu.
Nah, ada yang pernah dengar festivalnya? Sayang banget ternyata saya melewatkannya. Saya kembali ke Jakarta seminggu sebelum festival pemotongon gimbal tersebut. Katanya, jika rambut anak gimbal itu dipotong, ada keinginan (dari anak itu) yang harus terpenuhi. Kepercayaan disana mengatakan, bahwa itu adalah keinginan makhluk 'halusnya', bukan asli dari anak tersebut. Dan seringkali berisi petuah.
| Tuh, pelototin yang baju biru muda. Pelototin rambutnya, gimbal kan kayak rasta mania... hahaha |
Nah, dari Kawah Sikidang, lanjut ngebut kita ke Telaga Warna. Pintu masuknya sih, senang - senang aja. Tapi, lanjut terus makin kedalam makin NGERI! Mistik-mistik gimanaaaa, ya gitu. Pohon - pohonnya gak terlalu lebat, tapi teduh banget. Banyak lumut - lumutnya dan batu - batu besar, goa - goa keramat, dan suka banyak bau dupa atau kemenyan.
Waktu saya kesana, memang ada beberapa goa yang kami kunjungi terkunci dan wangi. Kata Pak Roso, sang pemandu, disitu ada yang sedang bersemedi. Waw, saya sontak kaget karena saya tidak biasa dengan hal - hal yang saya katakan mengerikan.
Balik lagi ke Telaga itu, menurut cerita orang - orang (saya diceritain Pak Roso), kalau di telaga ini ada yang menunggu. Namanya Kebo Ndanu. Kebo Ndanu ini berwujud seperti kerbau besar. Konon, dulu ada orang yang tidak percaya dengan itu, dan malam - malam orang itu datang ke telaga. Nah, Kebo Ndanu itu seperti merasa terganggu (mungkin) dan dia datang dari dalam telaga. Katanya, Kebo Ndanu itu besar sekali dengan wajah yang seram.
Telaga ini dinamakan Telaga Warna karena warna airnya sering berubah. Ketika saya kesana, warnanya sedang hijau toska. Tak saya lihat perubahan warnanya, karena kami hanya sebentar dan langsung melanjutkannya ke goa - goa.
Kata Pak Roso, banyak goa yang diyakini punya ajimat sendiri-sendiri. Ada yang bisa mempersubur wanita agar kelak cepat punya keturunan, dll. Pak Roso juga bilang kalau seringkali orang yang selesai bersemedi mendapatkan seperti mustika atau barang - barang yang 'mistik' lainnya, seperti keris, dll.
Tak banyak gambar yang saya ambil, karena saya defisit batere padahal event yang harus difoto lumayan banyak.
| Telaga Warna |
| Goa yang banyak |
Well, this is the farewell of our story meeting. Hahaha, masih banyak cerita yang aku punya yang malas aku tulis. Tapi doakan biar aku berubah jadi rajin. Terimakasih yang sudah baca, maaf kebanyakan basa - basi. Pokoknya, dijamin kalau ke Dieng ingin balik lagi, jika anda semua punya minat travel yang sama dengan saya. OK, ditunggu comment nya...

