“Persidangan hari ini dibatalkan. Kita bisa kembali ke apartemen sekarang dan kalian bisa fokus pada tur kalian selanjutnya, Indonesia”
“Benarkah? Mengapa kita kembali harus menunggu, menunggu, dan menunggu. Aku sudah lelah dengan semua gugatan yang mereka layangkan. Aku ingin kita kembali seperti dulu, dan selesai.”
“Hey, kau masih seperti dulu. Sudahlah, nikmati ini. Kita semua akan senang nanti. Tenanglah, Jae…”
Yoochun menutup debat Jaejoong dengan pengacara mereka, Shim I Rang. Ya, persidangan mereka dengan mantan entertainment yang dulu menaungi mereka, SM Entertainment, ditunda. Masalah yang sudah sangat berlarut, hingga memecah TVXQ, bukan hanya masalah SM Ent., ataupun TVXQ sendiri, namun juga Cassiopeia.
Hari ini perdebatan itu kembali terjadi, Jaejoong menjadi kesal karena ini semua sudah berlarut – larut. Mengorbankan waktu, bahkan sahabat. Yoochun tahu, walaupun begitu Jaejoong sebenarnya ingin bertemu kedua sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Yunho dan Changmin.
Kali ini Junsu hanya dapat diam duduk di ujung sofa tempat Yoochun juga duduk. Junsu sudah biasa untuk menyerahkannya kepada Yoochun karena dia tahu Yoochun dapat memudarkan suasana dengan tepat. Walaupun terlihat Jaejoong tidak berpaling arah. Bola matanya tetap sinis menatap I rang, dan Yoochun.
“Hhh, tenang? Baiklah. Aku pergi.”
“Aaah, Jae…”
Jaejoong membanting pintu, dengan nada marah. Itu sedikit tak biasa melihat Jaejoong begitu frustasi dan tanpa arah. Yoochun dan Junsu hanya memalingkan muka. Memaksa I Rang untuk mencari Jae, sendiri.
***
“Aku tak tahu bagaimana perasaan Jae sekarang. Aku sekarang terlalu sulit untuk menerka apa yang dia mau dan apa yang dia tak suka, ya kan Su?”
“He-em. Dia terlihat sedikit stress mungkin. Aku tak tahulah. Hey! Tapi apa kau ingat dia akan berulang tahun? Ya, coba lihat hari ini bulan apa? Tapi apakah dia senang hati dengan perayaan yang hanya kamu, aku, Jae, dan I rang, tanpa…”
“Aku tahu maksudmu. Yunho dan Changmin. Aku, jujur… ingin bertemu mereka. Kau lihat Changmin semakin besar dan dewasa? Hahaha, aku masih ingat bagaimana dia selalu merebut makananmu, Su. Dan aaah, Yunho Hyung! Dia yang biasa menasehatimu untuk berlaku normal bukan?”
“Hey, diam kau, Park Yoochun! Kenapa harus aku terus? Kau pun sering dinasehatinya!”
“Entahlah, namun kau lebih sering dari ku! Mungkin lebih banyak dari yang aku tahu.”
“Huh! Pengganggu! Sudahlah, yang penting sekarang, aku sangat rindu mereka. Jangankan untuk bertemu, hanya sms saja aku tak pernah mendapat balasan. Jadi sebenarnya siapa yang salah?”
“Maksudmu apa, Su?”
“Ya, maksudku, apakah aku yang salah untuk mengirimi mereka sms, atau mereka yang salah karena tidak menjawab sms ku? Aku bingung.”
“Kita lihat saja nanti. Bukan hanya kita yang menanti, semua orang!”
“Cassiopeia?”
“Aku rasa… Ya!”
Hujan kini rintik-rintik turun. Menggalaukan semua obrolan tadi, dan tentu Jaejoong. Kakinya melangkah keantara semak halus taman yang kini kosong tersiram hujan. Dan dia sendirian. Menangisi semuanya, meratapi hari ini, dan menyesali waktu. Hatinya kosong, dan kau tahu, dia ingin teman. Dalam satu barisan kalimat, TVXQ.
***
“Aku sudah muak dengan apapun gugatan mereka. Aku sudah muak dengan semua tudingan yang mereka lontarkan, semua kebohongan yang selama ini kuterima dan mereka semua dapatkan. Apakah Soo Man memang membenci dan ingin membohongi orang macam aku? Semua orang hanya tahu kalau aku baik – baik saja. Soo Man hanya inginkan aku dalam porsi yang sehat dengan beban. Aku… aku… ingin ini berakhir dan aku tahu, kukira Aku, Junsu, Yoochun, sudah mendapatkan apa yang kami katakan hidup. Tapi apa, itu belum!!!”
I Rang telah menemukan Jaejoong dalam derainya air hujan, basah, khilaf, dan menyesal. Dia menggigil. I Rang mengerti semua ini begitu berat bagi mereka bertiga, terutama Jae.
“Jadi… apa yang kau kira tentang… mereka? Yang lainnya?”
I Rang menjawab alibi keras Jaejoong tentang Soo Man.
“Siapa? Apa maksudmu?”
“TVXQ? Yunho dan… ahh… Changmin?”
“Mereka? Aku… aku mungkin…”
“Jadi?”
“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya mereka rasakan, ataupun yang mereka pikirkan. Aku hanya tahu Junsu dan Yoochun, tapi mereka… entahlah, mungkin mereka menganggap kami bukanlah bagian dari mereka lagi. Atau mungkin memang mereka tidak mau mengerti semua ini sama seperti diriku. Aku hanya tahu itu. Kau tahu, mereka sangat tertutup, sama seperti aku dulu. Yah, semacam kontrak.”
“Aku tahu, bagaimana yang kau pikirkan kali ini. Seperti biasa, kau selalu menghilang dengan ya… kau tahu apa yang kalian, kau, Junsu, dan Yoochun lakukan.”
“Ya… sekarang mungkin kau akan mengerti”
“Kau…”
“Apa?”
“ Tertekan?”
“……”
“Emm… Mungkinkah… Ya, kau begitu kuat akan mereka… kau tahu itu, dan aku selalu memperhatikanmu. Semua hal yang selalu kita semua perdebatkan, dan semua masalah yang telah dia buat, mungkinkah kau kembali bersedih, Jae? Maksudku, kau kembali terlibat dalam masa lalumu?”
“Kau mengerti?”
“Apa yang kumengerti mungkin saja dapat membantu. Bisakah aku……”
“Tidak. Dan cukup aku, Junsu, dan Yoochun. Kami, dan mereka, Yunho juga Changmin. Kau hanyalah penanggung jawab hukum kami. Dan kau hanya tahu sedikit tentang apa yang kami tahu.”
“Aku hanya ingin…”
“Membantu? Apa lagi? Menyelesaikan masalah? Ini bukan tentang kau, bukan tentang hari ini. Ini tentang aku, Junsu, Yoochun, Yunho, Changmin, TVXQ, Soo Man, dan kebohongan. Aku harap kau tidak pernah akan terlibat kecuali dalam apa yang kau tekuni. Kau tak akan dapat menyelesaikannya karena kau bukan pelakunya, ataupun saksi! Yang kau ketahui, biarlah menjadi bukti bahwa aku bukanlah orang bodoh yang selalu masuk dalam perangkap. Sisi baiknya… Ayo kita kembali ke apartemen. Dan anggap ini semua tidak terjadi.”
“Ya, aku hanya ingin tahu lebih banyak, jika kau mau. Apartemen? Baiklah. Junsu dan Yoochun menunggumu makan malam. Tentang kejadian hari ini, aku sudah lupa sejak aku menemukanmu.”
“Karena kau selalu melakukannya, I Rang.”
“Tepat, Jae. Ini lebih baik dari obrolah kita tadi. Itu lebih sulit dari kasus manapun.”
“Ini bukan kasus. Tapi ini misteri.”
(Jaejoong melirik tajam kearah I Rang)
“Hhh, semangkuk sup hangat akan sangat nyaman untuk melupakan sesuatu yang buruk hari ini.”
“Sangat jenius!. Ayo pulang karena aku kedinginan dan aku butuh istirahat untuk latihan besok.”
“Kau memang berubah-ubah hari ini, Jae.”
***
“Sidang kemarin ditunda, Changmin! Kau tahu, itu akan menjadi lebih lama dari pada apa yang telah kita berdua rencanakan. Jae, Junsu, Yoochun… Ahh… Aku berharap mereka baik-baik saja dan aku rasa mereka juga berpikiran yang sama kepada kita.”
“Ditunda? Kenapa?”
“Aku tak tahu. Ha Goon memberi tahuku tadi malam.”
“Ha Goon? Mengapa dia tidak memeberitahuku juga? Dia juga manajer ku kan, Hyung?”
“Mungkin lebih baik dia memberitahuku.”
“Ya, kau. Kau lah leadernya, dan kau adalah Yunho Hyung.”
“Betul sekali! Kau pintar sekarang, Changmin.”
“Hey, terpikirkah mereka melihat comeback stage kita minggu kemarin? Aku ingin tahu. Mereka tak pernah berkomunikasi dengan kita lagi sejak… kau tahu kan?”
“Kita harus optimis kalau mereka tetap peduli.”
“Jadi maksudmu, kau menuduhku kalau aku mengatakan mereka tidak peduli?”
“Bukan, maksudku kita, TVXQ, bukanlah 2, ataupun 3, tapi kita 5!”
“Aku, kamu, Jae, Junsu, Yoochun.”
“Kapan terakhir kita bertemu?”
“Entahlah, aku lupa. Itu terlalu lama dan itu terlalu pahit untuk diingat. Aku malas untuk kembali mengingat itu, karena nanti aku tak akan dapat tidur karena memikirkan itu.”
“Ahh, Changmin, Changmin. Kapan kau tumbuh dewasa? Kau selalu menjadi si bungsu yang lugu seperti, dulu. Dengan kami berempat sebagai kakakmu? Padahal sekarang, hanya aku kakakmu.”
“Karena aku masih merasakan mereka.”
“Mereka jauh disana, dan kau masih merasakannya?”
“Lihat, Hyung. Disini.”
(Changmin menggenggam tangan Yunho dan menaruhnya tepat di dadanya)
“Ya, aku tahu dan kau selalu mengerti”
“Karena aku sudah dewasa, Hyung.”
“Hey, kembalilah latihan, breaktime sudah berakhir. Ayo, semuanya, kembali ke formasi.”
Seorang pria muda datang dengan topi yang menutupi matanya. Badannya tinggi dan proporsional. Dia Shin Hee Won, koreografer SM untuk mentraining TVXQ.
“Lagi? Bisakah kami istirahat sebentar lagi? Kau tahu kan kalau kemarin malam kami tampil sampai tadi pagi? Aku lelah, Hee.”
“Oh ya, kita tidak punya banyak waktu lagi. Kalian akan comeback di Jepang beberapa minggu lagi. Mungkin akan ada banyak konser setelah beberapa bulan. Waktu kita tak banyak, Changmin.”
“Aku juga. Aku lelah dan kurang tidur. Ini bisa mengacaukan semua jika aku tak fokus.”
“Aku mengerti. Namun…”
“Baiklah 15 menit lagi. Aku tak ingin Soo Man bahkan mengejar-ngejar kami lagi.”
“Baiklah, Yunho. Kita selesaikan.”
(Changmin berbisik lembut ditelinga Yunho)
“Hyung, mengejar-ngejar? Jangan ulangi kata-kata itu. Kau ingat Jaejoong? Apa kau lupa?”
“Aku ingat. Maka itu aku tegaskan kepadanya. Biarlah…”
“Hemm… mungkin lebih baik kalau dia tahu.”
“Dia tidak akan tahu. Percayalah.”
“…”
***
Hari ini hujan musim semi muncul, menyegarkan bunga-bunga, dan pepohonan yang rindu musim semi yang suram namun indah untuk dipandang. Kini Hollyback muncul dipinggir pagar balkon apartemen JYJ. Hollyback merah yang indah jika tertimpa sinar matahari pagi yang kemerahan, membuat bagaikan tersingkap selimut sutra.
Junsu kini mengamati bunga Hollyback itu, entah sudah untuk berapa lama dan kesekian kalinya. Ia berpikir, mengagumi bunga itu. Yoochun baru saja selesai mandi dan menemukan Junsu sedang asyik bernyanyi sembari menyirami bunga Hollyback merah pertama yang ia lihat pada saat awal musim semi ini.
Yoochun kini tengah menyiapkan sarapan untuk kedua sahabatnya. Sebuah roti dengan selai untuk setiap orang. Pagi ini Jaejoong malas untuk membuat hidangan lezat. Dia sedang malas untuk mengerjakan sesuatu yang dia anggap kini berat untuk diselesaikan. Dan kini, dengan celana piyama dan kaus singlet dia melangkah gontai menuju sofa tempat Junsu kini bersandar.
“Hhh… Selamat pagi semuanya…”
“Hey, Jae! Lihat bunga ini. Hollyback telah tumbuh dibalkon kita!.”
“Hollyback?”
“Ya, warnanya merah lo!.”
“Aku kira disitu akan tumbuh bunga labu, atau paling, sejenisnya.”
“Aah, kau ini. Kau tahu, jika kita melihat Hollyback, dia akan dapat memberikan passion kepada kita hari ini. Dan kini aku menyiraminya. Hahaha… lucu bukan?”
“Hahaha… Apa kau bilang? Passion?”
“Iya.”
“Ayo ulangi. Apa?”
“Passion. Kenapa, Jae? Kali ini kukira inggrisku membaik. Kau lihat lidahku? Lebih panjang dari sebelumnya.”
(Junsu menjulurkan lidahnya dan menunjukkannya kepada Jaejoong)
“Apa kau ini? Lidahmu sama saja. Tak memanjang.”
“Ini memanjang! Kau harus tahu bahwa aku memperhatikan lidahku setiap hari.”
“Ok, terserah kau, Junsu. Tapi kemajuan bahasa inggrismu bagus. Hahaha… aku pikir kau akan membacanya sebagai passion(g) atau pesyiong dan bukan menjadi pesyien.”
“Hey, aku sudah melafalkan kata-kata yang akan aku katakan. Keajaiban berarti setelah kita debut di USA. Pengalaman hebat.”
“Ya, tapi kau sedikit membuat pengajarmu ingin membanting kursi karena kau selalu salah.”
“Aku hanya melafalkannya sekali dan dia bilang itu bagus.”
“Hahaha, dia pasti berbohong padamu?”
“Apa maksudmu ‘star did’? bahkan ‘started’ pun kau susah melafalkannya. Sudah begitu kau masih mau mengejekku?”
“Hahaha, itu hanya satu kata yang tak bisa kulafalkan, Su. Hahaha…”
“Tapi itu sudah cukup bagus bagiku. Aku memang hebat.”
“Ya, kau memang hebat Sir Junsu.”
Jaejoong menyalakan televisi, dan mencari saluran channel yang pas. Junsu tetap saja mengamati bunga Hollyback itu. Yoochun datang dengan tangan penuh roti.
“Jae, cepat ambil rotimu.”
(Menyodorkan banyak roti kepada Jaejoong)
“Wow, ini banyak sekali, Chun. Mengapa kau mengambil sebanyak ini?”
“Sudahlah, kalau tidak habis, tinggal kau taruh dimeja. Hey, Su. Mau sarapan tidak? Sepertinya hari ini kau alih profesi ya sebagai petugas kebun? Kerjamu dari baru bangun sampai aku selesai mandi, kau hanya mengamati bunga itu, dan menyiraminya hingga potnya pun penuh air. Kau kenapa? Tumben sekali.”
“Aku? Kenapa? Aku hanya memberikannya perawatan. Entahlah, anggap saja aku adalah seorang stylist seperti di salon-salon perawatan. Bunga ini adalah bunga pertama musim semiku kali ini. Ini bunga pertama kalian juga, iya kan?”
(Yoochun mengarahkan pandangan kepada bunga Hollyback itu)
“Ya, dia bunga pertamaku, juga. Sudahlah, cepat sarapan, dan sepertinya Seo Ji akan segera menjemput kita. Bersiaplah.”
Yoochun segera duduk disamping Jae, dan merekapun mengawali hari indah mereka. Tidak mengulas tentang kemarin dan menatap kedepan sebagai hari yang terang. Seo Ji, adalah manager dari JYJ yang sudah sangat dekat dengan JYJ. Dia disiplin, tegas, namun juga mengerti apa yang harus dilakukannya dalam sebuah kondisi. Lebih tepatnya, seorang Lee Seo Ji adalah professional.
(Tiba – Tiba handphone Junsu berdering. Tak ada yang mendengar, kecuali Yoochun.)
“Handphone mu Junsu. Aah, kau tetap saja memakai nada dering itu.”
“Memang apa salahku? Itu bukan urusanmu.”
(Junsu menjawab cuek dan mencari handphonenya.)
“Tapi itu terdengar aneh di telingaku.”
“Bukan ditelingaku, Chun.”
“Ayolah, ganti!.”
“Tidak!”
“Ganti!”
Sementara mereka berdebat, Jaejoong mengambil handphone Junsu dan segera menyodorkannya kepada Junsu. Yoochun tetap saja marah-marah karena nada dering Junsu.
“Hey, hey, cepat jawab handphone mu. Dasar kalian suami istri tak pernah rukun!”
(Jaejoong merengut)
“Suami istri? Sudikah?”
(Junsu mengangkat alibi)
“Aku tak mau punya istri dengan nada dering handphonenya yang ‘mengerikan’ seperti itu!”
(Yoochun mengelak)
“Oh ya? Kau, Park Yoochun, aku bersumpah untuk tidak akan jadi istrimu!”
“Oh ya? Bukankah kau tergila-gila denganku, Park Junsu?”
“Park Junsu? Sejak kapan aku berubah menjadi ‘Park Junsu’? Kau mengada-ada. Rasakan ini!”
(Junsu melemparkan sedikit tanah dari pot kearah Yoochun)
“ Wah, ternyata kau sekarang sudah berani melawanku, Park Junsu…”
(Yoochun meledeki Junsu dengan menirukan gaya ‘chicken butt’ Junsu)
“Aku bukan ‘chicken butt’ lagi! Kau tahu apa Yoochun tentang ‘chicken butt’-mu itu! Itu ‘duck butt’!”
“Hey, lebih baik kau lupakan ‘chicken butt’ atau ‘duck butt’ dan angkat handphone-mu! Kulihat Seo Ji yang menelpon dan jangan sampai kita terkena ceramah tambahan di van. Cukup untuk minggu ini. Cepat Junsu.”
(Jaejoong mengalihkan pembicaraan dan melemparkan handphone kepada Junsu)
“Wow, lemparan bagus. Hallo? Junsu disini, Seo Ji. Kami sudah sarapan dan kami, maksudku aku dan Jaejoong, belum mandi. Walaupun begitu, Yoochun sudah cukup rapi untuk membawa Jiji ke taman.”
“Laporanmu tepat.”
“Ya, kau selalu mengulang pertanyaan itu. Maka itu aku jawab lebih cepat dari pada kau bertanya. Ada lagi pada pagi ini tepat pukul 08.15? Karena aku dan Yoochun sedang berdebat dan ini sedikit membuat perdebatan kami memudar. Aku ingin memenangkan perdebatan pagi ini, Seo Ji.”
“Aku bertaruh kau kalah lagi, Junsu.”
“Hhh, kau akan menyesal tidak mendukungku kali ini. Hey, sesi pertanyaan kali ini, apakah ada sesuatu yang baru? Atau jadwal tambahan? Atau mungkin fan meeting and signing, pembatalan show,…”
“Nanti kalian akan ada wawancara spesial dengan salah satu media Amerika. Persiapan kalian harus matang, karena wawancara akan dilakukan 2 jam lagi. Jangan bersantai, dan kalian harus siap 20 menit lagi. Aku tunggu di lobby bawah. .”
“20 menit? Aku saja mandi 15 menit.”
“Aku tak mau tahu bagaimana kau bisa mandi selama itu, tapi itu sudah perjanjiannya kalau kalian harus siap dalam 20 menit. Dan itu urusanmu.”
“Seo Ji…”
“Ok, Junsu. Semoga kau tak terlambat dan kau memenangkan perdebatanmu kali ini.”