Senin, 07 Maret 2011

Travelling is About Your Heart, Mind, and Soul



Let's travelling with me. Talk about it with me in: fatikhalarassinindyas@yahoo.co.id. or twitter : @raerinpark

Alasan yang paling dasar kenapa saya bisa suka sama travelling itu klise banget, travelling itu adalah addiction yang amat sangat! Sering bikin orang sakau karena travelling sampai gak bisa ditahan lagi. Mungkin banyak orang sering sayang uangnya ‘dibelanjain’ buat travelling. Tapi, what should I do, kalo udah ada uang, buat apa tuh uang didiemin direkening padahal fungsi utama uang buat ‘dibelanjain’.


                Bagi yang sama-sama addicted banget sama travelling, pastinya udah tau sendiri gimana nikmatnya travelling. Travelling bukan masalah dekat atau jauhnya, elit atau enggaknya, mahal apa enggaknya, yang penting itu tuh PASSION and TASTE yang kita dapetin!. Gak usah berburu lokasi di Bali yang ngongkos, atau ke luar negri yang jauh. Apalagi bagi seorang traveler yang masih se-ucrit saya ini. Well, I’m a girl, yang otomatis kalo mau nyiptain ide backpacking sendiri gak dibolehin orangtua. Juga karena saya masih belum punya KTP, karena saya masih 15 tahun. Juga saya masih ada dibangku SMA, yang ujug-ujug buat backpacking gak ada fulus-nya.
                Banyak buku yang sudah saya baca, apalagi majalah serta pengalaman-pengalaman orang yang sudah biasa melanglang buana didunia per-travelling-an. Jujur saya kagum, sedikit iri, Karena mereka sudah bisa keluar kemana-mana sendiri. Kadang saya ingin jadi cepat besar supaya bisa langsung mblusuk-mblusuk kedaerah-daerah lain. Kalau bisa backpack keliling asia tenggara sendiri.
                Well, ternyata travelling itu based on your heart, walaupun saya gak bisa keluar tanpa orangtua, toh orangtua saya juga seorang yang suka travelling. Nikmatin apa yang ada, maksimalkan kondisi dan suasana.  Negri sendiri ternyata gak kalah hebat. Banyak daerah pelosok yang saya datengin lebih bagus dari pada daerah di Indonesia yang sudah ada banyak promosi.
                Terkadang saya mengamati kota tinggal saya sendiri. Saya sadar sekarang kalau kota tempat tinggal saya saja, saya tak terlalu memahaminya. Ada banyak wisata yang ditawarkan. Bisa kuliner, budaya, bahkan sekadar take a walk a while dijalanan utama bisa bikin kita fresh walaupun cuma liat mobil, motor, plus tak lupa angkotnya.
                Makna akhirnya, travelling is not about your money, the worthy, or even the story next. It’s about your mind, heart, and soul.

Sabtu, 05 Maret 2011

Tapak Cinta di Bali Part. 1



Terinspirasi dari tugas bahasa indonesia Ibu Kustini 'Membuat Cerpen' kelas X angkatan Meriam Baja tahun 2010/2011-X-2 SMAN 1 Bogor


Proudly present...



Aku tak tahu mengapa aku begini
Aku tak mengerti atau mungkin takkan pernah mengerti
Walaupun aku dapat berbuat lebih
Walaupun aku dapat membeberkan apa itu E=M.C2
Tapi aku sungguh bodoh dan tak berguna
Tolol
Aku tak mengerti, walaupun hanya bagian terluarnya
C.I.N.T.A
***
Agustus, hari pertama awal daun-daun akasia gugur dan kini memasuki mejaku berdiri. Menatap jam kelas yang condong ke kanan, dan kini aku memandangi balkon luar. Kubenarkan arah kacamataku, walaupun sedikit tersipu karena silau. Pagi ini sungguh dingin, walaupun dengan cukup banyak asupan matahari. Beberapa gadis adik kelasku memandangku acuh, tapi aku tahu sebenarnya mereka mencari perhatian. Seperti juga seluruh wanita dan gadis yang aku temui, yang membuntutiku hingga kelas berakhir, yang selalu membicarakanku dengan penuh khayalan, dan aku hanya menikmatinya sebagai hiburan sementara. Aku tak peduli, dan aku tak akan terpesona oleh pesona yang mereka jual kepadaku.
Kini aku kembali ketempatku duduk. Kelas ramai, dengan sejuta bisingnya canda, dan kau tahu… siswa SMA seperti aku dan mereka, punya seribu akal dan cara untuk menghabiskan waktu. Mereka, 2 siswi perempuan yang kukenal, cekikikan tanpa arah dengan seorang siswa, anggota klub basket sekolahku, yang juga cekikan sembari mencoba menarik perhatian lainnya. Yang lain, kembali ke kelompok masing-masing. Hanya tinggal memilih apakah kau seorang yang gaul, atau pintar, ataukah sepertiku, terkenal, pintar, bahkan lebih dari yang dapat kau cakup.
Aku dapat menguasai seluruh sekolah, kalau saja aku mau. Aku dapat saja dengan mudah mengacaukan kesejatian jantannya seorang laki-laki di seantero sekolah, dengan merebut seluruh wanita di berbagai kelas, termasuk petugas sekolah. Dan dapat saja aku berganti pasangan, tiap hari yang kumau, karena kutahu semua wanita menginginkanku, dan mereka mengejarku. Tapi aku bukan itu, aku orang baik, menurutku, dan aku adalah orang yang tak ingin membodohi orang –orang bodoh semacam mereka.
Buku catatan kecil merah padam, yang kubawa terus selama 1 tahun yang lalu, bertuliskan Herlan Raditya Afta, terbuka tak sengaja oleh angin. Kututup dengan sigap, sedang angin kini memainkan rambutku. Kacamata kulepas, melirik kumpulan Miss Gossip dalam kelas, dan kembali duduk dengan mengerjap-ngerjapkan mataku, mengepalkan jari-jari putihku, dan aku terkulai. Bosan. Aku sungguh bosan. Hari pertama aku masuk ke kelas baru, kelas 11, tanpa guru, dengan banyak celoteh.
***
“Herlan Raditya…”
Aku menunjukkan diri. Maju kedepan kelas, dan seperti awal tahun ajaran baru, aku harus mengenalkan diri. Sia-sia saja bagiku, menghabiskan waktu, karena tentu semua tahu aku, bahkan para gadis-gadis tahu sampai hal pribadiku. Tetap, aku tak peduli.
“Oh, Silahkan kau perkenalkan diri.”
Kini pelajaran kimia yang mengesalkan, guru dengan seribu senyum, padahal dia laki-laki berbadan tegap dengan bulu lebat disana-sini. Senyumnya membuatku menelan ludah banyak-banyak, dan tak sabar aku untuk meminum semua gelas air mineral agar terlupakan betapa aneh dan mengerikan senyum khas ala banci alias maho dikelas cowok tertampan dan sefenomenal diriku.
Aku melangkah maju. Sepatuku mengkilat karena cahaya neon lampu kelas. Hening sejenak. Nafas para gadis menderu ketika aku maju, dan aku tetap berpaling. Aku secara tak langsung mengawasi guru itu. Guru eksentrik, tak normal, aneh, dan setan bagi laki-laki. Dia cengengesan ketika aku berdiri tepat disebelah lorong matanya, dan aku semakin terdesak untuk menyerah berdekatan dengan laki-laki setengah wanita.
Aku menggeser badan, dengan kepala mendongak, memperlihatkan jenjangnya leherku. Guru itu juga mendongak, namun menatap diriku. Dalam. Sedetik kemudian, aku angkat bicara. Sungkan aku untuk selalu jadi korban tatapan menantang mereka.
“Saya, Herlan Raditya Afta. Kelas 11 IPA 6. Panggilan, Radit. Lahir tanggal 3 April. Umur sekarang 16 tahun. Terimakasih.”
Sesegera mungkin aku tersenyum dan mengangkat kakiku untuk menjauhi semua pusat tatapan. Tapi guru itu seperti menyukaiku, atau yang lebih buruk dia ingin aku menjadi pasangan homo-nya. Dia ingin mengetahui diriku lebih jauh, seperti gadis-gadis sewajarnya. Dia mendelik, memberi senyum menjijikkan,  dengan mengatupkan bibirnya agar terlihat lebih seksi. Aku mengumpat dalam hati, namun aku tak bisa. Aku mempunyai banyak gelar disekolah, berbagai ketua yang kusandang, satu saja aku salah melangkah, matilah aku.
“Apa lagi, Pak? Saya sudah membicarakan semuanya.”
Guru itu tetap mengatupkan bibirnya. Sekejap kemudian, ujung pulpen ia masukkan setengah keuluman lidahnya.
“Apa ya? Mungkin yang lebih dari yang tadi. Yang lain kan, mungkin saja tidak tahu tentang dirimu, Sayang.”
Aku terbelalak. Sayang? Oh, tidak. Mengapa masih ada guru yang tak kenal aku? Tidak mungkin!. Aku adalah ketua OSIS, pengurus harian dalam 5 ektrakulikuler yang kujalani, pemimpin tim basket sekolah, dan aku adalah siswa berprestasi tahun ini!. Apakah guru ini sudah gila? Aku rasa, ya!.
“Bagaimana dengan karirmu disekolah?”
Guru itu menggumam.
“Karir? Baiklah. Saya rasa cukup informasi yang anda dapatkan tanpa saya beritahu. Bukan maksud sombong, namun saya tidak mau mengembor-gemborkan saja, Pak.”
“Bisakah kau kupanggil, Herlan?”
“Maaf, Pak. Tidak bisa.”
“Why? Mengapa, Cinta?”
Barisan belakang, yang dihuni para laki-laki, tertawa riuh. Guru itu memberi isyarat diam, namun sedikit kikikan tetap tak hilang.
“Saya Radit, Pak. Cinta mungkin murid sekolah lain.”
Aku kini mengacuhkan keramaian. Aku kembali keduniaku, tapi tetap Guru itu tentu ingin mengetuk pikiranku agar dipersilahkan masuk. Aku tahu bagaimana seseorang jatuh cinta, tapi aku tak tahu bagaimana seorang banci jatuh cinta. Mungkin  mereka akan meronta, atau bahkan memohon. Entahlah.
Akhirnya setelah aku bekukan perkenalan yang kaku, aku kembali duduk. Dikursi paling depan, namun dipojokkan. Arti klise seorang pemimpin kelas, seorang penanggung jawab, sebagai acuan, sebagai yang pertama. Kembali aku merasakan gugurnya daun akasia, yang menapar wajahku. Dengan menatap tiap gerakan mencurigakan Guru kimia, aku hanya datar.
***
Seminggu berlalu, dan entah kenapa aku merasa kalau lorong kelasku semakin ramai. Banyak sekali orang yang lewat disana. Mereka terlihat mengawasi tingkah polahku dikelas, kebanyakan wanita. Aku tak pernah peduli. Itu adalah makananku sehari-hari. Aku acuh, atau dingin, sama saja. Tak berpengaruh. Tak ada yang menarik bagiku, mereka biasa, atau tidak memenuhi standar-ku.
               Mereka sering masuk ke kelasku, entah untuk apa. Tanpa alasan jelas. Tak hanya anak kelas 10, yang sejauh ini mendominasi jalur lorong kelasku, namun anggota sesama OSIS, yang otomatis bawahanku, juga para petinggi ekskul, dan bahkan para angota modern dancer yang digilai semua laki-laki disekolah ini, terkecuali guru kimia gila itu.
                Aku menyembulkan wajahku keluar jendela kelas. Tiba-tiba kulihat temanku, yang sesama anggota dewan harian OSIS, dan juga perkumpulan anak-anak pintar seangkatan menyapaku. Mereka teman terbaikku, sejauh ini. Semuanya laki-laki, tak ada wanita. Jujur, aku tak suka wanita. Aku belum pernah merasakan bagaimana jantungmu menderu ketika kau bertemu pujaanmu, atau bagaimana virus gagap menyerangmu ketika kau berbicara pada seorang wanita.
                Aku lancar saja ketika aku berargumen didepan seluruh warga sekolah, aku dapat dengan mudah berorasi, dengan karismaku, yang melebihi kepala sekolah bahkan. Pikirkanlah, hanya dengan berbicara kepada seorang wanita, kau dapat menjadi lemah?. Aku tak percaya, dan suatu kali aku pernah ingin membuktikannya. Namun sampai sekarang, aku tak merasakan apapun kepada berbagai wanita. Aku kelainan, ataukah aku belum menemukannya.
                Banyak wanita yang telah menyatakan perasaan kepadaku. Seperti dulu, aku hanya menatapnya, melihat wajahnya yang cemas, namun dia tetap terpesona padaku. Dia menatap mataku, mungkin dia pikir kesempatan langka dapat menatapku secara langsung. Aku menghela nafas, membetulkan kacamata, menatap kelangit-langit. Dan berkata, “Mungkin lebih baik kita hanya teman. Kau dan aku, TEMAN. Aku bangga atas kejujuranmu.”, lalu aku melangkah pergi, meninggalkan mereka, yang menangis, atau hanya mencibir, terdiam, menjulurkan lidah, shocked, bahkan ada yang muntah ketika aku pergi. Aku tak membantu mereka, aku sibuk dengan duniaku, dunia laki-laki yang tak membutuhkan perempuan.
                Shandy menepuk pundakku, mengagetkan, karena aku terkesima oleh sapaan teman-temanku tadi. Dia menggenggam tanganku, memberikan salam khas kami, dan membungkuk mengikat tali sepatunya. Aku kembali duduk. Dia membawakanku sedikit biskuit renyah, dan sebotol air mineral. Ya, Shandy adalah teman sebangkuku, sekaligus menjabat sebagai bendahara 1 OSIS.
“Gak keluar, Dit? Liat deh cewek-cewek diluar. Gak tertarik keluar sana buat cari angin? Pengap kali dikelas gak ada yang enak dipandang.”
                Shandy kini membuka botol air mineralnya, dan menyeruakkan biskuit coklat renyah yang ia beli. Aku memulai membuka sebuah novel, Romeo and Juliette. Tak tahu mengapa aku mengambil ini dari rak buku Papa. Tapi cukup menarik kelihatannya. Aku membaca resensinya, sedikit terhanyut, hingga aku melupakan seseorang disebelah.
“Heh! Ngelamun ya lo?”, Shandy mengguncangkan tubuhku.
“Apa?”, Aku terkesiap. “Sorry, gue tadi lagi baca resensi buku. Lumayan bagus.”, Kini aku membolak-balik tiap bulir halamannya.
“Romance? Coba lihat!”, Shandy merebut buku itu.
“Romeo and Juliette? Baru gue tahu kalau Herlan Raditya Afta suka sama buku kayak gini. Kenapa lo, Dit? Biasanya buku lo kan, ‘Perbudakan’ atau gak ‘Negri Seribu Ketidakadilan’. Ini bukan lo banget deh.”
“Emang kenapa kalo gue baca yang kayak gini? Gak selalu kan otak gue diisi hal berat kayak gitu?”
“Bukan masalah itu, Dit.”
“Apa?”
“Masalahnya, lo ngerti gak apa isi itu buku? Secara lo mungkin gak ngerti ‘CINTA’”.
“Sial lo, Shan. Emang tampang gue sebegitunya apa? Gue ngerti ‘CINTA’ tapi gue butuh waktu buat nyari ‘CINTA’ itu. Kasih gue waktu, makanya gue baca buku ini dulu.”
“Gue yakin lo gak bakalan bisa cari makna buku itu.”, Shandy kini menggigit sepotong biskuit.
“Lo harus percaya.”
“Sampe kapan?”
“Sampe… kapan ya?”, Aku berpikir, namun Guru kimia itu datang.
“Eh, ada guru, ada guru.”
                Shandy membereskan meja, mengenyahkan remah biskuit dan meneguk air. Aku juga sama hebohnya dengan Shandy. Berusaha menutupi diriku sesamar mungkin. Aku trauma.
                Si bencong, alias guru kimiaku, membolak balik buku panduan guru, menulis didaftar absen, dan mengabsen seluruh anak, tanpa terkecuali. Dia dengan gemulai mencatat disebelah kanan, dan mengabsen kembali, begitu seterusnya. Kukunya yang berkilau, merekahkan jemarinya yang sangat lebat penuh bulu pada pori-pori.
“Herlan Raditya…”
                Aku mengacungkan tangan. Ini berat. Aku tak mau menatap, aku tak mau bersuara. Dia memanggilku dengan mesra!. Aku terus mengumpat, walau kenyataannya seorang pemimpin harus menjadi pengayom bagi yang lain. Dia lantas tersenyum kepadaku. Dan menuliskan tanda checklist didalam kotak, dengan kepala yang teronggak kekiri dan kekanan.
                Dia menutup buku absen, merongrong kedepan kelas. Seperti seorang ballerina. Moncong sepatunya maju lebih dari 5 senti kedepan, menyombongkan dagu. Dia mengambil spidol kelas, berusaha menuliskan kata, namun dia mengurungkan diri. Kulihat kini ia menaruh spidol itu hati-hati dipinggir bibir mejanya, dan dia berbalik.
“Bagaimana kalau hari ini kita kelaboratorium? Uum, saya lupa kalau hari ini jadwal kita kelaboratorium. Siapa ketua kelas kalian?”
                Aku tersentak hingga pulpen hijauku jatuh. Shandy menggeleng, menepuk punggungku, dan aku mendengus. Kembali kulepas kacamataku, mengelus rambut, dan mencoba melihat jauh kedepan sana. Guru itu mencari-cari aku, sang ketua kelas.
“Mana ketua kelasnya?”, Dia bertanya manja.
“Saya, Pak.”
                Aku tak tahu betapa beraninya aku hingga secara tak sengaja aku bangkit dan menegakkan lenganku, dengan jari-jari kaku yang berdiri. Shandy menyemangatiku, dan Guru itu tersenyum. Aku cemberut, tidak membalas senyumnya, dan berlalu melewati yang lain, maju kedepan kelas namun menjauhi Guru itu.
“Ada apa, Pak?”
                Guru itu menyeringai. Aku mencibir. Seorang wanita yang duduk paling depan tersenyum menyatakan simpati dan perhatiannya padaku. Wanita yang lainnya, berburu tak mau ketinggalan memperhatikan fisikku yang hampir sempurna ini. Sedangkan yang laki-laki hanya cengengesan memperhatikan ketakutanku.
“Ooh, Radit, kan? Oke, Radit, sekarang pimpin kelasmu ke lab kimia ya… Saya tunggu,lo! See you bye...”
                Dia berlalu, meninggalkan jejak angin kosong dihadapanku. Betapa memalukan kini dia telah berani mencolek daguku. Kini pertahanan diriku harus sudah siaga 4. Kata ‘see you bye’ menggema dikepalaku, apalagi momen ketika dia berlalu dengan mencolek daguku. Aku tidak tersenyum, dan malah memanyunkan ujung bibirku. Kelas riuh ketika ia pergi. Semua orang bertanggapan tentang kejadian tadi.
                Aku pusing. Ribut sekali, dan aku sekarang aku tak dapat fokus. Perempuan-perempuan lain berkumpul dan kudengar ada beberapa kali mereka menyebut namaku dalam obrolan mereka. Aku tetap terpaku, kembali aku memakai kacamataku, dan sekali mengelus rambutku. Aku melangkah keujung pintu, membukanya sedikit, membiarkan angin masuk dan menghilangkan bekas nafas Guru itu. Aku menatap ke kelas, teman-temanku yang kooperatif, dan para wanita pemujaku, dengan laki-laki yang mengerang kepadaku untuk merasakan kepahitan colekan Guru pria gemulai seperti dia.
“Hey semuanya! Cepet keluar ke lab kimia ya. Kalian semua dulu yang keluar, Gue males ketemu dia. Maaf ya, Gue ngomong kayak gitu. Tapi… pokoknya kalian kesana lah.”
                Aku menundukkan kepala, menatap lantai keemasan kelas kami dengan sedikit guratan pada ujung-ujungnya. Kubukan lebih lebar pintu kelas ketika teman-temanku bergerombolan keluar kelas. Tanpa ada koordinir atau apa, satu persatu mereka menepuk pundakku, terlebih yang laki-laki. Dimulai dari Gundho, yang bertubuh paling besar dikelasku, lalu diikuti yang lain. Hingga laki-laki terakhir, temanku sendiri, Shandy.
“Yang tabah ya, Dit. Gue juga miris ngeliat yang tadi. Itung-itung pengalaman dicolek banci. Belom pernah kan lo?”, Shandy terkekeh.
“Lo simpati apa ngetawain gue sih? Jijik nih gue sekarang jadinya.”
“Aah, lo kan harusnya damai sama semua guru. Lo ketos kali.”
“Aah, presiden juga kalo digituan bakalan cengo’ kayak gue. Udah sana ke lab. Sisain gue satu bangku ya disamping lo.”
“Oke deh. Sip, Bro!”